TUHAN MENGUBAH TANGISAN MENJADI SENYUMAN

Bacaan: 2 KORINTUS 7: 4

“Aku sangat berterus terang terhadap kamu; tetapi aku juga sangat memegahkan kamu. Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah

Dalam kisah nyata yang berjudul “When God turned my sorrow to joy” diceritakan bahwa ada seorang gadis berusia 14 tahun.yang mengalami kesedihan luar biasa, ketika dia tahu ibunya divonis menderita leukemia atau kanker darah. Berselang sebulan setelahnya, giliran ayahnya yang divonis menderita kanker kelenjar getah bening. Sebagai seorang remaja berusia 14 tahun, dia tidak tahu harus merespons kabar buruk ini seperti apa, yang jelas kabar ini telah mengguncang dunianya.

Sebagai seorang anak yang tumbuh besar di lingkungan Kristen, sudah berkali-kali dia mendengar bahwa ketika hidup menjadi sulit, kita harus mempercayai Tuhan. Ketika tragedi terjadi, kita harus kuat karena Tuhan ada di sisi kita. Tetapi, ketika badai hidup menerpanya, tidak serta merta mempercayai bahwa rencana Tuhan itu indah. Malah, ada kalanya berpikir jika Tuhan mungkin saja menyerah.

Karena kesedihan ini, sekalipun di sekelilingnya ada banyak orang yang mengasihi, dia  mendapati dirinya merasa kesepian. Dia membiarkan perasaan ini berakar dan membuatnya jadi tidak percaya diri; dia mulai meragukan apakah Tuhan memang benar-benar hadir di dalam hidupnya karena Dia tidak menyembuhkan ibunya, karena setelah lebih dari setahun divonis kanker, beliau pun meninggal dunia. Dia harus berusaha untuk menjalani kehidupan yang baru—sebuah kehidupan tanpa kehadiran sosok Ibu. Di luar, dia berusaha menunjukkan bahwa dia percaya sepenuhnya kepada Tuhan, tetapi jauh di dalam hati merasa bingung dan kehilangan, terlebih setelah ayahnya jatuh cinta dengan orang lain dan keluarganya pindah meninggalkan rumah yang telah ditempati sejak dia kecil.

Namun, di tengah-tengah masa kelam itu, sesungguhnya Tuhan tidak pernah meninggalkan dan terus mengejarnya, dan perlahan menghancurkan benteng kepahitan yang mengelilingi hatinya. Beberapa lama berselang setelah kematian ibunya, dia ikut program mission trip ke Tiongkok yang bertujuan ingin melarikan diri dari segala tragedi yang menyelubungi hidupnya.

Namun, dalam “pelarian” itu Tuhan punya rencana untuk menunjukkan betapa egois dirinya dan Dia ingin memulihkannya. Suatu ketika, di atas gunung di Tiongkok, Dia menggunakan tempat terpencil untuk menyadarkannya. Untuk pertama kali  dalam hidupnya, anak ini mendapati dirinya begitu lemah di hadapan-Nya. Tuhan menegur melalui sebuah ayat: “… Dalam segala penderitaan kami aku sangat terhibur dan sukacitaku melimpah-limpah” (2 Korintus 7:4). Ketika motivasi pergi ke Tiongkok adalah untuk melarikan diri, justru Tuhan malah membawanya ke sebuah tempat yang tenang untuk duduk di hadirat-Nya dan mengalami perubahan hidup. Dia tidak tahu seperti apakah sukacita yang sejati itu, tetapi saat itu dia tahu bahwa ia  membutuhkannya. Dan memohon pada Tuhan supaya Dia memberinya sukacita, supaya kembali percaya akan rencana-Nya, jalan-Nya, dan cerita yang Dia tuliskan untuk hidupnya.

Tuhan menunjukkan bahwa sukacita bukanlah kebahagiaan yang bersifat sementara, melainkan sebuah kepuasan yang mendalam akan rencana Tuhan, yang kita tahu adalah untuk kebaikan kita. Sukacita bukan berarti kita akan selalu bangun dengan senyuman setiap harinya; sukacita bukan berarti kita akan selalu riang gembira di tengah badai kehidupan. Sukacita adalah sebuah keputusan untuk melihat tujuan Allah ketika segala sesuatunya runtuh. Sukacita adalah pilihan setiap hari, sekalipun ada hal-hal yang membuat air mata menetes.

Tuhan mengajari kita bahwa menjadi seorang yang lemah adalah jauh lebih baik daripada berpura-pura kuat. Kelemahan kita menunjukkan bahwa sesungguhnya kita butuh bergantung pada Tuhan. Tuhan akan mengubah tangisan kita menjadi senyuman. Percayalah. Tuhan Yesus memberkati.

~YS