SIKAP ORANG BERIMAN TENTANG BENCANA

Saudara seiman dalam Kristus yang terkasih, lebih dari satu tahun kita sudah menjalani kehidupan di dalam pandemi Covid-19 dan sampai saat ini belum ada tanda-tanda akan berakhir. Bahkan di beberapa negara, justru masuk dalam kurun serangan virus tahap ke-3. Sementara di negara kita, selain bencana non alam yang masih kita rasakan, muncul bencana alam yang bertubi-tubi. Bencana banjir di beberapa wilayah Indonesia, bencana alam yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrim seperti siklon Seroja yang mengakibatkanbanyak korban karena banjir dan tanah longsor di beberapa kabupaten di Nusa Tenggara Timur, dan terakhir bencana gempa bumi di Malang.

Alkitab mencatat ada beberapa macam bencana yang kita pahami memiliki maksud dan makna yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Bencana Alam sebagai Peringatan/Hukuman Allah

Dalam perjanjian lama kita tahu ada peristiwa air bah, yakni pada masa Nabi Nuh. Dalam pandangan iman Kristen, bencana ini dikehendaki oleh Allah untuk menghukum dan memperingatkan umat ciptaan-Nya atas ketidaktaatan manusia kepada Allah (Kej. 6: 1 – 9: 19). Hukuman itu dijatuhkan Allah karena hati mereka sudah sedemikian jahat (Kej. 6: 5). Hati mereka yang jahat itu tercermin dalam sikap hidup mereka, yang cenderung selalu berbuat jahat.

Tanda Penampakan/Kehadiran Allah kepada Manusia

Banyak cara yang dipakai Tuhan untuk menunjukkan kehadiran-Nya di tengah-tengah manusia. Salah satu tanda itu adalah dengan adanya bencana alam.

Di dalam perjanjian lama, Nabi Yesaya memberi kesaksian dan menulis, “…engkau akan melihat kedatangan TUHAN semesta alam dalam guntur, gempa, dan suara hebat, dalam putting beliung dan badai dan dalam nyala api yang memakan habis.” (Yes. 6: 6).

Di dalam Perjanjian Baru, gempa bumi juga menunjukkan kehadiran/penampakan Tuhan kepada manusia. Peristiwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib dan kebangkitan Tuhan Yesus menjadi bukti yang sangat jelas bahwa Allah menyatakan kuasa-Nya dalam peristiwa-peristiwa itu (Mat. 27: 51; 28: 2). Ketika Paulus dipenjara di Filipi, dia mengalami kehadiran Tuhan yang begitu ajaib, sebab dia dilepaskan dari penjara oleh Tuhan sendiri. Peristiwa tersebut ditandai dengan adanya gempa bumi yang hebat (Kis. 16: 26).

Tanda-tanda Akhir Jaman

Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kepada murid-murid-Nya tentang hal itu. Ketika murid-murid-Nya bertanya tentang “….apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” (Mat. 24: 3). Tuhan Yesus menjawab bahwa “Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat” (Mat. 24: 7; Mrk. 13:8). Gempa bumi tersebut akan terjadi di banyak tempat di belahan dunia ini dan menimbulkan kerusakan yang dahsyat.

Sebagai umat ciptaan-Nya kita harus percaya, bahwa kehendak Tuhan senantiasa untuk mewujudkan damai sejahtera bagi semua umat ciptaan-Nya. Oleh karenanya kita selalu memohon, agar mampu secara bijak menyikapi dengan benar setiap peristiwa, dan tidak serta merta menghakimi bahwa bencana itu dimaksudkan sebagai bentuk hukuman saja, melainkan ada kehendak lain dari-Nya yang juga harus kita pahami.

Tuhan Yesus memberkati.~YS