SAMBAT

Bacaan: JABUR 130: 1

“Dhuh Yehuwah, saking jurang ingkang lebet kawula sesambat dhumateng Paduka.”
Via Vallen beberapa tahun yang lalu pernah membawakan lagu yang sangat terkenal berjudul “Sayang”:
Majelis sayang,,,, apa kowe krungu jerite atiku…?

Meh sambat kalih sinten yen sampun mekaten, merana uripku… hok’aaa…hok’eeee….
Kira-kira dua tahun belakangan ini kita banyak mendengar orang sambat, mengeluh, curhat, dan lain sebagainya karena keadaan, khususnya keterpurukan ekonomi imbas dari pandemi. Sampai ada yang menjual cincin kawin satu-satunya hanya supaya sekeluarga bisa makan. Po ra ngenes itu?

Sambat adalah hampir sama dengan minta tolong. Namun sambat agak ada “sakitnya”. Sambat yang sesungguhnya mrentul karena didorong oleh kenyataan yang sudah mentok, tidak bisa dan tidak ada jalan lain kecuali sambat. Bukan sambat karena manja, yang cuma pura-pura merasa tidak bisa melakukan dan lebih memilih nyremimih untuk mengeluh.

Seperti dalam perikop ini, sambat itu serius, bahkan sampai dideskripsikan oleh juru Mazmur, seperti di jurang yang paling dalam, terjebak dalam suatu tempat yang tidak bisa keluar dari tempat itu, tidak ada yang bisa dilakukan kecuali nyadhong sih kawelasan. Tidak punya daya, hanya pertolongan dari Orang Lain sajalah yang bisa mengankatnya dari jurang yang paling dalam itu. Memang serius, supaya Yang Disambati juga serius untuk memberikan pertolongan.

Mari kita sambat kepada Tuhan. Berdoa tidak sekedar permohonan tapi sebuah pengakuan atas kelemahan diri di hadapanNya. Bernafaslah bersamaNya. Raih daya Ilahi untuk bertahan, untuk terus maju. Tuhan Yesus memberkati. ~EPM