SAAT JIWA TERTEKAN, BERHARAPLAH PADA TUHAN

Bacaan: MAZMUR 43

 “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 43:5)

Ada yang beranggapan bahwa tidak bisa beribadah di tempat ibadah akan mengakibatkan iman seseorang bisa pudar. Namun hal itu tidak sepenuhnya benar, sebab ibadah bisa dilakukan di mana saja. Justru akumulasi pergumulan yang tidak segera teratasi dapat menyebabkan degradasi iman serta munculnya tekanan jiwa. Tekanan jiwa bisa mengakibatkan kecemasan dan kegelisahan (ayat 5). Situasi tersebut dapat membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan yang dapat menggoyahkan iman. Meskipun kita tahu bahwa Tuhan adalah tempat di mana kita bisa menemukan ketenangan, namun orang yang tadinya begitu meyakini akan kasih Tuhan menjadikan dirinya mulai bertanya seperti Daud : “Mengapa Engkau membuang aku?” (ayat 2a). Ini sebuah ungkapan rasa yang tertekan dan terbuang seolah Tuhan membiarkan kita terus berjalan dalam lembah kekelaman.

Saudaraku terkasih, apakah dalam situasi dan kondisi pandemi seperti saat ini, kita juga mengalami tekanan jiwa? Apakah kita juga merasakan ‘terbuang’ di hadapan Tuhan? Jangan biarkan hal itu berlarut-larut menguasai hati dan jiwa kita, sebab kita akan terus hidup dalam ‘perkabungan’ yaitu mengalami kesedihan yang mendalam (ayat 2b). Lalu bagaimana supaya kita terlepas dari tekanan jiwa?

  1. Meyakini bahwa Tuhan adalah sumber terang yang akan menuntun dan membawa kita masuk ke hadirat-Nya yang kudus (ayat 3);
  2. Percaya bahwa Tuhan adalah sumber sukacita dan kegembiraan kita (ayat 4);
  3. Tetap bersyukur dan menaikkan pujian bagi kemuliaan nama-Nya (ayat 4, 5b);
  4. Berharap akan pertolongan Tuhan (ayat 5).

Amin. Tuhan Yesus memberkati. (Lukas Istiadi)