PERTOLONGAN TUHAN

MAZMUR 121: 1 – 8

Sebuah kelompok berisikan 15 tentara yang dipimpin oleh seorang Mayor sedang menuju sebah Pos di Himalaya dimana mereka akan ditempatkan selama 3 bulan ke depan. Perjalanan yang sulit dan cuaca ekstrim harus mereka lalui. Andai saja ada yang berjualan teh, pikir sang Mayor.

Mereka melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah bangunan tua yang terlihat seperti kedai teh namun terkunci. “Tidak ada teh. Sial!”, kata sang Mayor kepada tim-nya. “Pak, ini adalah kedai the dan kita dapat membuat teh, kita dapat merusak kuncinya,” saran dari salah satu pasukannya. Sang Mayor pun mengalami dilema terhadap saran yang tidak etis itu. Namun memikirkan pasukannya sudah kelelahan membuatnya memberikan ijin. Mereka beruntung, tempat tersebut memiliki seluruh yang mereka butuhkan.

Tentara-tentara tersebut minum teh dan makan biskuit, kemudian mereka siap melanjutkan perjalanan. Sang Mayor berpikir, mereka sudah merusak kunci dan menikmati teh serta biskuit tanpa ijin dari pemiliknya, tetapi mereka bukanlah sekelompok pencuri. Ia mengambil Rs 1000 dari dompetnya, meletakkannya di atas meja, ditindih dengan tempat gula, sehingga sang pemilik dapat melihatnya.

Tiga bulan berlalu, tibalah saatnya untuk tim lain yang menggantikan mereka. Saat dalam perjalanan pulang, mereka singgah di kedai teh yang sama, yang kebetulan pada saat itu pemiliknya ada di kedai. Mereka berbincang dengan orang tua itu mengenai kehidupannya dan pengalamannya berjualan teh di tempat yang terpencil itu. Sang orang tua memiliki banyak cerita terutama mengenai keyakinannya akan Tuhan.               

“Bapak, jika Tuhan itu ada, mengapa Ia tidak mengeluarkanmu dari kemiskinan seperti ini?”, komentar salah seorang dari mereka.

“Jangan berkata-kata seperti itu teman, Tuhan itu nyata, saya mendapatkan buktinya 3 bulan lalu. Saya sedang sangat kesulitan pada saat itu karena anak saya yang satu-satunya dipukuli hingga babak belur oleh teroris. Saya menutup kedai saya dan membawa anak saya ke rumah sakit. Ada obat yang harus saya tebus, tetapi saya tidak punya uan. Saat itu sata putus asa. Hari itu saya berdoa kepada Tuhan dan Tuhan datang ke kedai saya. Saat saya kembali ke kedai, saya menemukan gemboknya dirusak, saya merasa hancur, saya kehilangan semua yanag saya miliki. Namun saya menemukan Tuhan meninggalkan Rs 1000 di bawah tempat gula. Saya tidak bisa menjelaskan betapa berharganya uang itu. Tuhan itu nyata, teman.”

(Diterjemahkan dari “WELCOME CUP OF TEA” share by a Soldier, dari wall FB seorang sahabat)

Sepenggal kisah di atas mungkin pernah kita alami dalam berbagai versi yang berbeda dan pertolongan Tuhan itu datang dengan cara dan waktu yang Tuhan mau dan bukan yang kita mau. Bawa setiap masalah dan pergumulan kita dalam doa. Kerjakan yang menjadi bagian kita, karena doa itu bekerja kalau kita juga aktif mengerjakan apa yang kita doakan. Dan bela rasalah bagi sesama yang membutuhkan, karena Tuhan bisa hadir melalui kehadiran kita bagi orang lain. Selamat merasakan kehadiran Tuhan dan menghadirkan Tuhan bagi sesama. Amin.

~SRL