MENGAPA ENGKAU TIDUR, YA TUHAN?

Bacaan: MAZMUR 44: 18–27

“Terjagalah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangunlah! Janganlah membuang kami terus-menerus! Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu dan melupakan penindasan dan impitan terhadap kami?”

Demikianlah permohonan pemazmur kepada Allah. Kalimatnya lugas, tanpa basa-basi, dan penuh pengharapan kepada Allah. Nampaknya pemazmur ingin Allah bertindak melakukan sesuatu dalam keadaan hidup yang ia alami. Dalam ayat 27, pemazmur berseru, “Bangkitlah dan datanglah menolong kami, selamatkanlah kami karena kasih-Mu.” Pemazmur mendasarkan pengharapannya pada kasih Allah sendiri. Dia tidak mengandalkan kebaikannya, tetapi semata mengandalkan kasih Allah. Ya.. hanya kasih Allah. Kesadaran yang utuh dalam diri yang merasa rapuh tanpa kasih Allah.

Mungkin, itu pulalah sebabnya pemazmur pada ayat 18 – 19 menetapkan hati, “Semuanya ini telah menimpa kami, tetapi kami tidak melupakan Engkau, dan tidak mengkhianati perjanjian-Mu. Hati kami tidak membangkang dan langkah kami tidak menyimpang dari jalan-Mu, walaupun Engkau telah meremukkan kami di tempat serigala, dan menyelimuti kami dengan kekelaman.”

Pemazmur agaknya tidak menampik bahwa dia merasa capek berharap dan terus berharap tetapi dia tidak mau meninggalkan Allah. Pemazmur juga tidak mau melanggar hukum-hukum Allah, meski mungkin dia juga merasa bingung mengapa Allah mengizinkan yang buruk menimpa dirinya. Ada tanya dan galau dalam diri. Namun ia tetap belajar percaya dan mempercayakan pada kasih Allah.

Pada titik ini kita perlu belajar dari pemazmur – juga di tengah berbagai situasi sulit dalam kehidupan yang kita alami serta rasakan. Belajar untuk tidak goyah, memercayakan diri kepada Allah, dan menaati perintah-perintahNya. Sebab Dia Tuhan, dan kita adalah umat milikNya sendiri. penyertaanNya kekal di sepanjang masa hidup kita. PertolonganNya nyata di antara kerapuhan diri. Cukup dengan percaya dan belajarlah mempercayakan hanya padaNya dalam segala rasa di kehidupan ini.

Saat ini, di tahun yang baru, percaya dan mempercayakan hanya pada kasihNya. Kasih Allah yang akan menjadi daya hidup, semangat dan keyakinan kita pun menjalani tak pernah sendiri. Selamat memasuki peziarahan dalam hidup di tahun ini bersamaNya.

~EW