MEMAKNAI PERJUMPAAN DENGAN TUHAN

Bacaan: 1 TAWARIKH 17: 27

“Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!”

Bulan Oktober 2022 merupakan Bulan Keluarga bagi Gereja Kristen Jawa. Sinode GKJ mengambil tema “Keluargaku Berjumpa Tuhan,  Keluargaku Menemukan Makna“. Melalui tema tersebut tentu kita perlu bertanya pada diri sendiri beserta keluarga: “Apakah aku dan keluargaku benar-benar sudah mengalami, merasakan dan menemukan makna perjumpaan dengan Tuhan?”. Bila jawabnya sudah, bagaimana caranya dan apa makna yang kita dan keluarga dapatkan? Adakah pengenalan kepada Tuhan semakin mendalam? Adakah perubahan ke arah kebaikan, keharmonisan dan kebahagiaan di tengah-tengah keluarga? Seandainya keluarga Saudara sudah merasakan dan mengalami hal tersebut, tentu sangat menggembirakan. Namun jika keadaan keluarga saat ini carut marut, hubungan antar anggota keluarga tidak harmonis, sering terjadi pertengkaran, dan kondisi rumah “panas” bagaikan di neraka, tentu ada hal yang harus kita refleksikan kembali arti perjumpaan dengan Tuhan dan makna di dalamnya.

Namun bagi kita yang merasa belum benar- benar merasakan arti perjumpaan dengan Tuhan dan maknanya, mari kita belajar melalui kesaksian penulis Mazmur khususnya pasal 105:1-6. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan agar benar-benar dapat menemukan arti perjumpaan dengan Tuhan dan maknanya:

  1. Carilah Tuhan dan temukan (ayat 4).
    Jika seandainya Saudara kehilangan HP, apakah tetap tenang-tenang saja atau sangat kebingungan? Apa yang pertama Saudara cari ketika bangun tidur? Mencari Tuhan melalui doa dan membaca firman-Nya, atau mencari HP lebih dulu?  Itulah sebabnya banyak orang yang sulit mengalami perjumpaan dengan Tuhan karena banyak orang yang tidak mencari Tuhan dengan cara yang benar.Kita hanya mencari Tuhan dalam keadaan kepepet karena segala usaha yang kita lakukan sudah menemui jalan buntu. Tuhan hanya dicari dan dipakai sebagai “ban serep” saat kondisi darurat. Ubah kebiasaan itu. Carilah lebih dulu Tuhan dan kekuatan serta wajah-Nya maka kita akan merasakan perjumpaan dan sukacita luar biasa (ayat 3-4).
  2. Bersyukur kepada Tuhan (ayat 1).
    Bersyukur itu merupakan ungkapan rasa terimakasih atas segala hal yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan kita. Banyak orang bersyukur ketika ia mengalami sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan hatinya. Sementara saat mengalami kesulitan, pergumulan, dan penderitaan ia tak mampu bersyukur, bahkan menggerutu, mengeluh, menyalahkan keadaan dan menyalahkan Tuhan. Orang yang mampu bersyukur dalam segala keadaan, baik suka maupun duka, bahagia maupun menderita, sukses maupun gagal, maka ia akan merasakan perjumpaan dengan Tuhan. Mulailah bersyukur dari hal-hal kecil, maka kita akan mampu bersyukur dalam hal yang lebih besar. Pernahkah ketika bangun tidur kita ambil waktu teduh untuk bersyukur? Pernahkah kita sebelum tidur mengucap syukur atas perlindungan dan semua berkat yang Tuhan berikan hari ini? Jika belum,  lakukanlah!
  3. Bernyanyilah bagi Tuhan karena ajaib perbuatan-Nya (ayat 2).
    Ciri orang yang mampu bersyukur dalam segala keadaan dapat dilihat dari cara hidupnya yang penuh sukacita disertai pujian kepada Tuhan. Dalam segala keadaan, situasi dan kondisi apapun (senang atau susah, bahagia atau menderita) yang menjadi subjek utama pujian adalah Tuhan dan bukan diri sendiri. Orang akan mampu menaikkan pujian saat ia tidak memusatkan pada betapa malang dan stresnya dirinya, melainkan betapa beruntung dirinya. Beruntung karena ia mampu melihat dan merasakan berkat-berkat Tuhan sekecil apapun.
  4. Segala berkat hanya berasal dari Tuhan (ayat 5).
    Kebanyakan di antara kita lebih sering menghitung banyaknya masalah, banyaknya persoalan, banyaknya kesulitan, banyaknya pergumulan dibanding menghitung banyaknya berkat! Mulai saat ini hitunglah berkatmu dan bukan masalahmu! Berkat Tuhan jangan dinilai dengan seberapa banyak kekayaan, seberapa tinggi jabatan dan hal-hal yang bersifat materi.  Kita diberi kesehatan, bisa bernapas, bisa beraktivitas, memiliki pekerjaan, memiliki keluarga, memiliki sahabat, memiliki tempat tinggal dll, itu juga berkat yang tak ternilai harganya. Kita akan sulit bersyukur jika fokus kita pada masalah dan bukan pada berkat Allah. Ingatlah bahwa tidak ada waktu yang kita jalani hari demi hari tanpa berkat Tuhan. Saudara bisa membaca renungan ini pun juga berkat Tuhan, karena ada sementara orang yang tidak bisa membaca dan melihat indahnya dunia karena buta. Beruntunglah kita karena sampai saat ini perbuatan Tuhan yang ajaib dan mujizat-Nya terus terjadi dalam hidup kita!

Amin. Kiranya keluarga kita dimampukan mengalami perjumpaan dengan Tuhan sehingga setiap anggota keluarga menyadari pentingnya makna hidup menjadi berkat di tengah-tengah keluarga. Tuhan Yesus memberkati keluarga kita!

~Lukas Istiadi