Mak Jegagik

Lukas 19: 5
“Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

Di cerita ini misi Yesus masih dalam rangka mencari yang hilang. Sebagai pemungut cukai, Zakheus dibenci oleh orang Yahudi karena dianggap pengkhianat yang bekerja untuk bangsa penjajah. Tidak ada orang yang mau dekat dengannya karena yang dekat akan dicap dan dirasani sebagai pengkhianat dan pendosa juga. Tapi Yesus memilih mendekati dan merangkulnya. Yesus mengenal setiap nama, setiap pribadi, komplit dengan dosa-dosanya. Sehingga walaupun belum pernah bertemu dan bersembunyi dibalik rimbunnya daun ara, Yesus tahu.
Maka tiba-tiba, mak jegagik, Yesus menengadah dan memanggil nama: “Zakheus, Aku harus menumpang di rumahmu”.

Seandainya kita akan kerawuhan ketua majelis saja, kita pasti dengan terpaksa senang hati membersihkan rumah kita dan tak lupa menyemprot pengharum ruangan.
Nah, ini Yesus yang akan datang. Kalau siap sih kita dengan enteng menjawab “Monggo, Gusti.” Lalu berjalan dengan lenggang kangkung sambil singsot-singsot dan pesen go-food daripada nanti Martha ngomel-ngomel.
Tapi kalo kita sadar bahwa keadaan rumah masih seperti kapal pecah, pakaian masih semampir dan pating klumbruk di sana-sini, maka kita akan gage-gage lari ke rumah lebih dulu untuk membersihkan rumah dan menatarapikan semuanya. Atau malah nolak? “Anu Gusti, mbok ke rumah yg lain aja dulu, ke rumah saya besok-besok saja.”
Mari kita sambut Yesus. Kita sapu segala ” kotoran, debu & sarang laba-laba” dosa di hati kita supaya Yesus nyaman tinggal.
Seperti dalam Kidung 148.
“Gustimu kepareng mundhut papan aneng atimu
Resikana dimen patut Gusti karsa lumebu” [EPM]