LIHAT SEGALANYA LEBIH DEKAT

Bacaan: MATIUS 7: 2

Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

Pada sebuah pameran buku akbar yang pernah saya kunjungi, terdapat berbagai acara diantaranya lomba cheersleader. Saya sudah under estimate dulu dan “menghakimi” mereka. Sambil melihat ke anak-anak tersebut saya berkata dalam hati saya…ealaahh caaaahhh entuk e opo ngono-ngono kui, hidup itu sungguh sangat keras, kalian harus mempersiapkan diri dan memperlengkapi diri dengan baik untuk bisa bertahan hidup kelak, daripada sekedar berolah tubuh dengan mempertontonkan gerakan-gerakan yang membahayakan diri. Beberapa saat setelah itu, sekelompok regu yang akan bertanding berkumpul di depan stand tempat saya berdiri, sebelum berdoa bersama, coach-nya memberikan kata-kata pamungkas kepada anak didiknya, kurang lebih yang saya tangkap oleh pendengaran saya demikian, “Lawan paling berat itu adalah diri kalian sendiri, apapun yang terjadi jangan libatkan emosi, tetap tenang.” Merekapun berdoa bersama.

Saya pun merasa seperti “dijenggung”…. Kuwi rungokkeeee….!! Penilaian sayapun berubah, mereka ternyata “belajar” juga dari kegiatan yang seperti hanya membuang-buang waktu itu, mereka belajar mengendalikan diri, mereka belajar berkompetisi, menerima kekalahan atau kemenangan dengan menyikapinya secara bijaksana. Tuhan seperti baru saja menjawab pikiran liar saya….jangan terburu-buru menilai sesuatu apalagi dengan melihat kulit luarnya saja.

Saya adalah bagian kecil dari banyak orang atau istilah sekarang netizen yang budiman –yang sering melihat peristiwa atau kejadian dari apa yang terlihat oleh mata, kemudian mulai menilai dan menghakimi tanpa mencoba mencari tahu terlebih dahulu apa, bagaimana, mengapa sampai ke dalam, bahkan terkadang dibumbui dan dibungkus dengan pikiran jahat yang mungkin tidak disadari. Penting untuk melihat segala sesuatu lebih dekat untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan kemudian bisa memahaminya. Biarlah hanya Tuhan saja yang menjadi Hakim, karena kita pun sebenarnya semua sama, pernah berbuat konyol, salah, keliru, salah jalan.  Lihat dulu lebih dekat sebelum menghakimi (itupun jika perlu dan jangan lupa bercermin terlebih dahulu, sudah benar atau baik kah saya?), karena akan sangat tidak enak diukur orang dengan ukuran yang pernah kita pakai untuk mengukur orang lain. Yuk, lihat segalanya lebih dekat…!

~CY