KESETIAAN PADA ALLAH

Bacaan: GALATIA 5: 22–23

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”

Merenungkan tentang buah-buah Roh, nampaknya dianggap menjadi sesuatu yang sangat biasa, meskipun mengimplementasikan dalam kehidupan bukan sesuatu yang gampang. Dalam renungan kali ini kita akan mengingat kembali sebagian dari buah Roh itu, yakni “kesetiaan”. Menurut KBBI, kesetiaan berarti berpegang teguh (pada janji, pendirian, dsb); patuh; taat; terhadap janji yang telah disepakati, meskipun berat dan banyak kendala yang harus dihadapi.

Agar mendapat gambaran tentang makna kesetiaan itu, barangkali kisah tentang seekor anjing yang setia kepada tuannya di bawah ini bisa menginspirasi. Adalah seekor anjing yang setia bernama Hachiko, pada 21 Mei 1925 tidak melihat majikannya datang saat kereta di Stasiun Shibuya Jepang tiba sore itu. Ternyata, saat berada di kampus, Profesor Ueno, si pemilik Hachiko, mengalami stroke dan meninggal dunia. Hachiko menunggu hingga keesokan harinya. Saat berada di rumah duka tidak ada cara untuk memberi tahu anjing malang itu apa yang terjadi dengan tuannya. Selama 9 tahun, setiap sore Hachiko terlihat berdiri di depan pintu keluar Stasiun Shibuya. Ia duduk dan berharap bisa bertemu kembali dengan majikannya. Itulah gambaran tentang makna kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

Saudara, sebenarnya apakah kesetiaan itu menurut Alkitab? Dalam Perjanjian Baru, kata “setia” memiliki 3 (tiga) makna yang berbeda, yaitu dapat dipercaya; taat menjalankan perintah; dan orang yang percaya, pengikut atau penganut. Ketika Tuhan Yesus berbicara tentang hamba-hambaNya yang setia, yang Dia maksud adalah Dia sedang menantikan orang-orang yang mau percaya dan mengikuti Dia; taat dalam menjalankan amanatNya; dan dapat dipercaya sepenuhnya. Tuhan menginginkan kita untuk terus beriman dan setia kepadaNya.

Jika kita hidup dalam kedagingan, maka kita tidak akan memiliki buah Roh yang salah satu sifatnya adalah kesetiaan. Bagaimana seseorang bisa berkata bahwa “aku setia kepada Tuhan namun aku hidup menurut kehendakku dan kedaginganku”. Orang yang hidup dalam kedagingan akan hidup menurut kehendaknya sendiri, BUKAN menurut kehendakNya. Dalam Galatia kita telah diingatkan agar kita dapat hidup dalam Roh, dan buah Roh ada di dalam hidup kita yang menjadikan kita setia kepada Tuhan, karena kita tidak hidup menurut kedagingan kita dan hawa nafsu kita. Saat kita hidup menurut kehendak Tuhan maka kita akan taat kepada Tuhan dan melakukan semua perintahNya dalam hidup kita, maka dapat dikatakan bahwa kesetiaan ada di dalam hidup orang tersebut. Kiranya Tuhan Yesus selalu memberkati, sehingga kita mampu selalu setia kepadaNya. Amin.

~YS