KEMINTER

Bacaan: JABUR 73: 22

Kawula rumaos bodho saha boten mangretos, kados kewan wonten ing ngarsa Paduka.”

 Di dalam ayat ini, Juru Mazmur merasa dirinya dungu dan tidak mengerti. Jarang ada orang yang merasa bodoh atau mengakui kebodohannya sendiri seperti itu. Dalam kehidupan sehari-hari biasanya sebaliknya, kita akan sering menjumpai orang yang merasa paling pinter, paling tahu, dan paling bener sendiri. Misalnya, ini sekedar contoh saja, ada tukang bangunan yang dipanggil yang empunya rumah untuk memperbaiki atau merenovasi bangunannya yang rusak. Sebelum mengerjakan, tukang bangunan itu justru mengkritik hasil pekerjaan tukang bangunan sebelumnya. Misalnya lagi, diminta membetulkan entah wastafel, genteng bocor, atau apapun yang rusak, maka dia akan mengkritik terlebih dahulu, “Wah…siapa dulu yang ngerjain ini, Pak? Kok kerjaannya parah begitu. Harusnya kan tidak begini… bla bla bla…”. Jadi dia merasa yang paling ahli, orang lain salah, tidak becus, dan lain sebagainya. Padahal sebenarnya yang mengerjakan dulu itu ya dia juga.

Dalam kehidupan bergereja mungkin juga begitu, entah dengan motivasi apa. Sekali lagi ini bukan warga gereja kita, tapi warga GKJ Rawabebek. Kalau warga GKJ Pakem itu semua santun, rendah hati, tidak keminter. Kalaupun mengkritik ya sekedarnya saja, dengan unggah-ungguh yang begitu kental. Tidak jedar-jeder di depan banyak orang, tidak mengkritik pedas di dalam grup WA. Pokokmen asyik-asyik jemaatnya.

Mari kita belajar bersama dengan bercermin pada Firman Tuhan. Semoga kita semua dimampukan untuk menjadi pelaku Firman. Gusti mberkahi kita semua. Amin.

~EPM