Jaya Enda

Bacaan: YUNUS 1: 3a

“Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan Tuhan; ….”

 Percakapan imajiner antara seorang istri yang majelis dengan suaminya:
Istri : “Mas, bulan depan aku lereh, besok gantiin aku jadi majelis, ya?”
Suami : “Lho, jadi majelis itu kan perbuatan baik to, kok berhenti lho? Teruskan aja.”
Istri : “Lha aku kan sudah pernah, njenengan kan belum. Mbok ya ikut melayani to, Mas.”
Suami : “Lha aku ini kurang apa? Sudah jadi guru sekolah Minggu, jadi PPJ, jaga parkir. Kalau diitung-itung sudah setara jadi majelis lho. Mbok yang lain aja.”
Istri : “ Mosok mau minta pakde Jumar atau lik Mandiyono lagi? Yang muda-muda lah. Wis, gek ditandatangani surat kesanggupannya.”
Suami : “Lho, ya kosik to. Jadi majelis itu tidak seperti tahu bulat yang digoreng dadakan lima ratusan lho. Itu butuh proses, Maimunah!”
Istri : “Lha jadi guru sekolah minggu dan sebagainya itu kan sudah proses namanya, Rudolfo!”

Begitulah kira-kira kalau kita (eh, saya ding) disuruh melayani, disuruh jadi majelis. Banyak alasan untuk menolak. Jaya endha istilah Jawanya. Contohnya: masih sibuk, anake masih kecil, atau takut dikritik, misalnya sudah jaga parkir di Malam Natal, di Kamis Putih, menahan dingin dan rela tidak mengikuti kebaktian yang syahdu, eeee masih ada yang mengkritik, dan harus tetap sabar mendengar masukan nylekit dari yang maha benar jemaat dengan segala kritikannya.
Yunus pada waktu itu juga jaya endha dari panggilan Allah, menolak untuk memberitakan amanat Allah kepada orang Niniwe karena takut mereka akan bertobat dan lolos dari hukuman Allah.
Yunus tidak ingin Allah mengasihani bangsa lain kecuali Israel. Namun Yunus lupa bahwa rencana Allah yang utama bagi bangsa Israel ialah agar mereka menjadi berkat bagi orang bukan Yahudi serta menolong mereka untuk dapat mengenal Allah.
Kita kadang juga lupa akan tugas kita untuk melayani dan memberitakan kasih Allah. Bahkan saat sudah melayani, kadang kita juga merasa umuk. Kita sering lupa, ketika kita siap melayani, kita juga harus mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan. Seperti dalam ayat Kolose 3: 23 “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” EPM