IMAGINE

Penggalan lirik lagu “Imagine” dari John Lennon bila diterjemahkan secara bebas kira-kira seperti ini: Bayangkan, tidak ada neraka, tidak ada surga, hanya ada langit di atas kita, tidak ada agama, tidak ada negara, dunia ini satu, tidak serakah, orang saling berbagi, hidup damai, maka orang tidak akan saling membunuh atau tidak perlu mati.

Lagu ini mungkin terinspirasi atas kejadian di dunia, dimana peperangan dan kekerasan terjadi akibat keserakahan memperebutkan sumber-sumber kehidupan atau kekerasan atas nama agama. Klaim bahwa agamanya paling benar dan pemilik surga atau satu-satunya telah terjadi sepanjang peradaban manusia dan selalu menjadi pemicu kekerasan atas nama agama.

Di dunia ini ada sekitar 4000-an agama dan bisa kita bayangkan kalau masing-masing agama ini mengklaim bahwa agamanyalah yang paling benar dan pemilik surga satu-satunya. Ditambah lagi dengan pemahaman, misalnya semua yang tidak sejala dengan agama saya harus dihancurkan. Betapa kacaunya dunia akibat paham seperti ini. Kalau Tuhan hanya berkenan pada satu agama, betapa diskriminatifnya Tuhan. Dalam pemahaman iman kita, Allah yang Mahakasih itu adalah Allah yang adil dan penuh bela rasa. Bela rasa Allah ditunjukkan dengan kehadiran-Nya dalam diri Yesus Kristus untuk keselamatan seluruh dunia. Allah yang adalah Firman, telah menjadi manusia. Allah yang Mahamulia itu telah mengosongkan diriNya (kinosis) dan menjadi sama dengan manusia dan tinggal bersama dengan manusia. Ini artinya Allah berbelarasa dengan manusia sehingga manusia mau serupa dengan Manusia, bahkan Allah mengambil rupa seorang hamba.

Bela rasa yang telah diteladankan Allah melalui Yesus Kristus, Sang Firman yang telah menjadi manusia, kiranya menjadi teladan kita juga untuk berbela rasa dengan sesama, terutama menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks. Berbela rasa dengan sesama menghadapi pandemi yang tidak kita tahu kapan akan berakhir, membuka pintu dialog lintas iman, memulihkan keutuhan ciptaan, akan mencerminkan seperti apa kita dalam beragama. Selamat menghayati hidup beriman melalui agama yang membangun kemanusiaan dan peradaban. ~SRL