HIDE AND SEEK (Petak Umpet / Jithungan)

Bacaan: MATIUS 7: 7 –  8

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima, dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan.

Suatu pagi waktu bangun tidur, anak ragil saya – Giva, mengajak saya untuk bermain petak umpet. Karena kami tidur di kamar lantai atas, maka permainan dilakukan di lantai atas. Giva selalu senang menjadi penjaga (yang jadi), sehingga saya yang harus mencari tempat untuk bersembunyi.

Game pertama, saya sembunyi di balik tempat tidur. Giva temukan saya. Dia tertawa riang menemukan tempat bersembunyi ayahnya sambil berkata “ayah ketahuan”. Seharusnya saya yang jadi, tapi Giva tidak mau, pokoknya dia yang selalu jadi “seeker-nya”.
Game kedua saya bersembunyi di belakang pintu, ketahuan lagi. Giva tertawa riang lagi. Game ketiga saya turun dan bersembunyi di kamar mandi ruang depan. Karena di lantai atas dia tidak menemukan saya, Giva turun ke bawah dan kembali tertawa lepas. Kami meneruskan permainan dengan kembali ke lantai atas. Kembali Giva berhitung, “One, two, three…” Saya berpikir akan sembunyi turun lagi, tapi pikir saya kasihan dia kalau turun naik tangga (dan tentunya saya akan capek juga kalau turun naik), “seven, eight….” Saya putuskan untuk sembunyi di kolong tempat tidur (tempat yang paling dekat dengan posisi dia berhitung), “Ten!” Di akhir hitungannya saya berhasil sukses ngumpet. Dia mencari di seluruh lantai atas (selain di kolong tempat tidur tentunya) dan tidak berhasil menemukan saya. Saya tertawa dalam hati karena merasa sukses bersembunyi. Tetapi Giva kemudian turun mencari saya di lantai bawah yang tentunya tidak bakal menemukan saya di sana.

Karena capek, akhirnya dia mulai menangis mencari ayahnya tidak ketemu-ketemu. Saya tetap diam di bawah kolong tempat tidur sambil membersihkan rambut kepala saya yang penuh dengan sarang laba-laba. Akhirnya tangisnya semakin menjadi-jadi. Karena kasihan, saya memberi sinyal dimana saya bersembunyi dengan meneriakkan suara gajah versinya Giva, “ooooooiiiiiikkkk…” berulang-ulang sampai menuntun Giva naik kembali dan berhasil menemukan saya, tapi tangisnya tidak langsung hilang, mungkin karena terlampau jengkel.

Saudara, terkadang kita sebagai orang percaya sama seperti yang Giva alami. Ketika kita mempunyai masalah, cobaan, penderitaan, kita mencari Tuhan Yesus, tapi kok tidak ketemu-ketemu dan masalah masih tetap ada. Kita menangis dalam setiap doa-doa kita, “Tuhan, dimana Dikau? Kenapa doaku tidak Tuhan jawab-jawab?” Tuhan seperti bersembunyi di tempat yang kita tidak tahu. Percayalah saudara, Tuhan tidak jauh-jauh dari kita. Sebenarnya Dia sangat dekat dengan kita umatNya, tetapi radar rohani kita tidak menangkap sinyal dari Tuhan. Di saat kondisi kita seperti itu, kadang-kadang mata iman kita “tidak melihat” Tuhan yang sedang duduk di samping kita, Dia sebenarnya ada di dekat kita.

Nats kita hari ini menunjukkan hal tersebut kepada kita, tapi ingat juga akan Pengkotbah 3: 1 yang mengatakan “Tuhan itu menjadikan segalanya indah pada waktunya”. Waktu Tuhan berbeda dengan perhitungan waktu kita. Mari kita dengan sabar meminta, mengetok, dan mencariNya dengan iman, sambil ikut akan waktu Tuhan bertindak. Jangan menyerah.

Setelah Giva menemukan ayahnya, karena terlalu capek menangis, akhirnya dia tertidur di pelukan saya dengan sangat tenang. Kita pun akan sangat merasa tenang, karena percayalah, TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya (Mazmur 34: 18). ~DWN