Hati-hati menata HATI

Bacaan: 1 SAMUEL 16: 1–13

“Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Sam 16: 7b)

 Sering kita punya penilaian ideal, untuk fisik seorang pemimpin atau orang yang sukses. Tapi Jikalau melihat figur pemimpin atau orang-orang sukses dari berbagai belahan dunia, rasa-rasanya bentuk fisik sama sekali bukan menjadi penilaian utama. Sebut saja Presiden kita, perawakannya biasa saja, tidak tinggi besar, tidak juga rupawan. Juga orang sukses, contohnya Bill Gates, pun juga sama. Rupa-rupanya masyarakat hari ini telah memahami dan menerapkan jargon “don’t judge a book by it’s cover”. Artinya rupa atau perawakan seseorang tidak menjadi jaminan kualitas dan hati orang tersebut. Belum tentu yang biasa saja dipastikan kualitas diri dan hatinya biasa saja. Belum tentu pula yang rupawan dipastikan kualitas diri dan hatinya seindah penampakannya.

Dalam bacaan tentang kisah bangsa Israel, memang Saul sebagai raja pertama Israel yang berperawakan tinggi besar, berpostur ksatria, sehingga wajar jikalau Samuel ketika melihat Eliab berpikir bahwa Eliablah yang akan Ia urapi menjadi raja. Dalam pikiran Samuel, seorang raja itu kualifikasi fisiknya seperti Saul. Namun Tuhan menegur Samuel, yang Allah kehendaki bukan perkara fisik yang tinggi besar atau paras bak ksatria, tetapi TUHAN melihat hati. Daud yang masuk dalam kualifikasi hati yang dikehendaki Allah bukan ketujuh saudara laki-lakinya.

Tetapi kitakan bukan Tuhan yang bisa melihat hati orang? Ya… benar! Justru yang menjadi pertanyaan adalah “mengapa kita mempersoalkan hati orang lain? Dan seringkali mudah menilai bahkan menghakimi hati orang lain yang sejatinya tidak kita ketahui? Bisakah kita memberi pertanyaan ini untuk diri kita sendiri? Bagaimana hatiku di mata Tuhan?”

Jika perkara “Tuhan melihat hati” kita tempatkan pada diri kita bukan pada hati orang lain, maka kita akan sibuk menata hati kita agar indah di mata Tuhan. Bukan sibuk menuntut hati orang lain. Bukan pula sibuk menata rupa kita seolah segalanya, karena yang utama adalah hati yang penuh kasih, jauh dari dendam, amarah dan benci. Kiranya kita diberi kemauan untuk semakin memperindah hati.

“Manusia melihat rupa, TUHAN melihat hati.”

Ayoooo… bersama-sama saling menata hati masing-masing, tidak sibuk dengan menilai atau menghakimi hati orang lain.

~AI