HA NA CA RA KA

Bacaan: MATIUS 26: 33

Petrus menjawab-Nya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.”

Ada suatu kisah yang terkenal di tanah Jawa, yaitu cerita tentang Aji Saka. Aji Saka adalah seorang yang sekti mandraguna dan mempunyai dua orang murid. Suatu kali ia menitipkan keris kepada Sembada, salah seorang muridnya, dan berpesan untuk menjaganya: “Kalau bukan aku sendiri yang mengambil keris ini, jangan diberikan, apapun alasannya.” Lalu setelah Aji Saka jadi raja di Medhangkamulan, ia pun teringat akan kerisnya, dan memberi dhawuh kepada murid satunya, Dora, untuk mengambil kerisnya. Dan sudah pasti dua murid yang sama-sama digdaya itu berkelahi karena mempertahankan apa yang dipesankan guru kepadanya masing-masing. Dora disuruh gurunya untuk mengambil keris, sedang Sembada dipesan untuk mempertahankan keris kecuali Aji Saka sendiri yang mengambilnya. Mereka begitu setia dan memegang teguh apa yang disampaikan gurunya. Begitulah cerita yang dirangkum dalam aksara jawa Ha Na Ca Ra Ka. Cerita tentang kesetiaan murid.

Kita tahu bahwa Petrus adalah murid yang fanatik. Semacam bonek-nya Persebaya. Orangnya bras-bres. Hajar duluan, urusan belakangan. Seorang pemberani yang sok-sokan membela Yesus, ngomongnya ndakik-ndakik, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Tahu-tahu pas ditanya “Kamu muridnya Yesus, ya?”, langsung mak plendhus, “Yesus, siapa Dia? Gue kagak kenal.”

Dalam kehidupan nyata, sering kali kita menemukan hal-hal yang menguji keimanan kita, kesetiaan kita kepada Yesus. Misalnya ditawari kalau mau meninggalkan Yesus, akan mendapatkan jabatan yang mentereng dengan gaji sak hohah. Atau diiming-imingi kurungan manuk yang indah. Ha ya pasti bakal oleng imannya kalau tidak kuat.

Mari kita saling menguatkan saudara seiman dan berdoa supaya diberi keteguhan iman dan kesetiaan sampai akhir kepada Yesus. Tuhan Yesus memberkati kita semua. ~EPM