GAGAL KARENA KATA-KATA

“Ada orang yang berbicara tanpa dipikir bagaikan dengan tikaman-tikaman pedang.” (Amsal 12:18)
“Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” (Amsal 10: 19)
“Dari mulut yang sama keluar berkat dan kutukan. Saudara-saudaraku, tidaklah patut bahwa hal-hal itu terus berlangsung dengan cara ini.” (Yakobus 3: 10)

Seorang bapak baru pertama ikut kebaktian ke Gereja bersama istrinya. Istrinya lebih dahulu mengenal Tuhan. Si bapak lupa mematikan HP-nya saat ibadah dan secara tiba-tiba berdering saat berlangsung kotbah. Seorang Penatua menegurnya dan beberapa orang memarahinya karena dianggap sudah mengganggu kekhusyukan. Sepanjang perjalanan pulang, istrinya terus memarahinya karena keteledorannya. Setelah peristiwa itu, si bapak memutuskan untuk tidak pernah lagi melangkahkan kakinya ke Gereja karena merasa dipermalukan dan diremehkan. Harapan untuk mendapat sukacita dan pelajaran tentang kasih hilang dari benak bapak itu.

Malam setelah kejadian itu si bapak pergi ke café. Masih merasa terganggu dengan kejadian di gereja, si bapak tidak sengaja menumpahkan minuman pesanannya. Pelayan bar dengan sigap meminta maaf dan membersihkan pakaiannya. Petugas kebersihan mengepel lantai. Manajer bar itu memberikan minuman pengganti. Ia juga memberikannya pelukan serta berkata, “Jangan khawatir, siapa sih yang tidak pernah berbuat salah?” Sejak saat itu, ia tidak pernah berhenti datang ke bar itu.

Dari dua sikap penerimaan terhadap bapak tersebut ketika melakukan kesalahan, mana yang kita anggap lebih baik? Dan jika kita berpendapat sikap orang-orang di café lebih bai, mengapa kita tidak jadikan contoh untuk memenangkan jiwa di dalam Gereja atau jadikan sebagai contoh perilaku dalam berpelayanan?

Jika fokus kita adalah kesalahan orang, bagaimana kita bisa memenangkan jiwa? Mari kita lihat kembali mata hati kita. Bukan soal siapa benar atau salah, tetapi bagaimana respon kita itu yang menentukan buah pelayanan kita. Apa yang terjadi di gereja kita, apa kata-kata yang keluar sudah dirasa bisa menjadi berkat dan seseorang merasa diterima?~AI