Domba dan Gembala

Bacaan: YOHANES 10: 1 – 14

“Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.” (Yohanes 10: 4)

Keluarga kami memiliki dua ekor anjing yang kami rawat sejak masih kecil. Mereka kami beri nama Dego dan Mocil. Kami rawat dan kami sayangi seperti keluarga sendiri, bahkan si Mocil ketika lahir induknya mati. Kamilah yang membawa ke dokter hewan, membelikan makanan, vitamin, dan minuman untuk bayi anjing. Keuda anjing kami mengenal suara kami, bahkan langkah kami pun mereka tahu. Kalau kami pulang dari bepergian, mereka senantiasa menyambut dengan rasa gembira ditandai dengan kibasan ekornya yang melambai-lambai, seraya berdiri memeluk kami. Mereka berdua mengerti bahasa kami. Jika saya suruh masuk rumah, mereka patuh. Setiap kali kami duduk santai, mereka senantiasa menemani duduk di dekat kami. Namun kalau dengan orang asing selain keluarga saya, mereka tidak mau didekati apalagi dibelai. Mereka merasa aman jika ada di dekat kami.

Dalam perikop yang kita pelajari hari ini, kita melihat perumpamaan tentang gembala dan domba. Yesus sebagai Gembala dan kita pengikutNya sebagai domba-domba. Kedekatan relasi antara sang Gembala dengan domba-dombaNya sangatlah intim. Para domba sangat mengenal suara gembalanya, begitu pula sang gembala tahu persis nama-nama dombanya (ayat 3 – 4). Sang gembala selalu berjalan di depan, diikuti domba-dombanya. Ia siap untuk melindungi domba-dombanya sekalipun harus bertaruh nyawa. Sang domba pun akan merasa damai dan tenteram apabila ada di dekat gembalanya.

Bagaimana jika kita terapkan dalam kehidupan kita? Sudahkah kita menjadi domba-domba yang baik dan selalu mengikuti apa kata gembalanya? Atau kita lebih senang mengikuti suara masing-masing. Masih sering nggugu sak karepe dewe? Sehingga kita akhirnya tersesat atau bahkan sengaja menyesatkan diri dan terhilang dari kawanan domba yang lain?

Ingat bahwa ada “pencuri” yang selalu mengintai untuk membawa domba jauh dari gembalanya. Wujud pencuri yang akan menjauhkan domba dari gembalanya itu bermacam-macam, antara lain: rasa kecewa, penderitaan, sakit hati, merasa tidak puas, merasa tidak terperhatikan, merasa dianaktirikan, dan lain sebagainya. Sementara kita juga dipanggil untuk menjadi gembala bagi dunia. Bukan dunia dalam arti luas. Mungkin bisa saja itu keluarga kita, atau setiap orang yang kita jumpai dan sedang terluka serta membutuhkan pertolongan saat sedang berjalan melalui lembah kekelaman. Apakah kita juga mau menuntun domba-domba dan membawanya ke padang rumput hijau? Ataukah justru hanya memberi rumput kering tak bergizi? Sudahkah kita mengenal nama masing-masing domba, sehingga tahu betul jika ada salah satu yang tersesat?