BAHU UNTUK BERSANDAR

Bacaan: LUKAS 10: 36 – 37

“Siapakah di antara ketiga orang ini menurut pendapatmu adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya;”Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

 Seorang ibu bertanya kepada putranya, “Apakah bagian tubuh kita yang paling penting, Nak?” Ketika masih muda dan suka mendengarkan musik, anak itu menjawab, “Telinga, Mama.” Banyak orang tuli di dunia ini, Nak. Coba kau pikirkan lagi jawaban yang lebih tepat,” kata si Ibu. Ketika anak itu sudah menjadi pemuda, ibunya melontarkan pertanyaan yang sama. Kali ini sebagai mahasiswa yang harus banyak membaca dan selalu harus menatap monitor gadget-nya ia menjawab, “Mata lah yang paling penting, Ma.”Di dunia ini tidak terbilang banyaknya kaum tunanetra, Nak. Suatu saat nanti kau pasti menemukan jawab yang jauh lebih tepat,” sahut si Ibu.

Suatu hari kakek dari pemuda itu dari pihak ayahnya meninggal. Semua sedih, semua merasa kehilangan, semua menangis, bahkan ia pun menyaksikan ayahnya pun menangis. Saat menjelang peti jenazah ditutup, ibunya berbisik di telinganya untuk mengajukan pertanyaan yang sama itu lagi.

Belum hilang rasa terkejutnya, terdengar ucapan lembut ibunya, “Sekarang saatnya aku memberitahumu, Nak. Bagian tubuh kita yang terpenting adalah bahumu.” Putranya segera menjawab, “Apakah karena ia menyangga kepalaku?” Ibunya menggelengkan kepala, lalu menyahut dengan lembut lagi, “Akan tiba waktunya masa susah dan kesedihan datang dan orang akan menangis. Pada saat itu ia membutuhkan orang-orang tercinta atau sahabat dekat yang menyediakan bahunya sebagai tempat untuk bersandar dan menangis.” Tiba-tiba perasaan sang Ibu terasa menyentuh kalbu. Memberi pemuda itu sebuah perspektif yang segar dan baru.

Bapak, Ibu, Saudara yang disayangi Tuhan, kita dalam menjalani kehidupan tentu ada suka dan ada duka, ada kecewa, ada menangis, dan itu semuanya kita rasakan bersama. Sewaktu kita menderita, sewaktu kita sedih, sewaktu kita menangis, kita memerlukan bahu untuk menyandarkan diri kita. Kita memerlukan sahabat, memerlukan orang yang di sekitar kita yang mencintai kita untuk meletakkan kepala kita di bahunya dan untuk menjalani hidup kita di tahun 2023 itu percayalah bahu yang kokoh akan selalu ada untuk kita. Untuk menyandarkan kepala kita di dalam suka dan duka kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Selamat untuk terus berjuang. Selamat untuk terus belajar menekuni rahmat Tuhan di dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

~DH